Dolar Nyaris Sentuh Rp 13.000,- ini penjelasan Gubernur BI

Diposting pada : 2015-03-04
Share this article on :

Jakarta -Sejak akhir pekan lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak cenderung melemah. Dolar AS terus mendekati level Rp 13.000.

Mengutip data perdagangan Reuters, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kala penutupan pasar berada di posisi Rp 12.955/US$. Menguat dibandingkan saat pembukaan pasar yaitu Rp 12.995/US$.

Agus Martowardojo, Gubernur Bank Indonesia, menilai fluktuasi rupiah adalah hal yang wajar. Dalam rezim devisa mengambang, perubahan nilai mata uang adalah hal yang tidak terhindarkan.

Dia menambahkan, pemerintah dan BI sudah memperkirakan bahwa rupiah akan bergerak (menguat atau melemah) sekitar 3-5% dari asumsi dalam APBN-Perubahan 2015 yang sebesar Rp 12.500/US$.

"Persetujuan pemerintah dan DPR, nilai tukar ada di Rp 12.500. Itu adalah rata-rata selama 1 tahun. Kondisinya di atas Rp 12.500 atau di bawah itu, ada penguatan atau pelemahan 3-5%," jelas Agus di Istana Negara, Jakarta, Senin (2/3/2015).

Menurut Agus, faktor utama pelemahan rupiah adalah penguatan dolar AS terhadap berbagai mata uang dunia. Pasalnya, perekonomian Negeri Paman Sam terus membaik.

"Secara umum, kita waspada AS yang menguat. Tapi Indonesia yang bisa lakukan pengendalian subsidi BBM dengan baik, pengendalian inflasi berjalan dengan baik, kita harapkan APBN-P bisa direalisasi dengan baik, sehingga buat ekonomi baik," paparnya.

Meski bergerak cenderung melemah, tetapi dolar AS tidak sampai menyentuh level psikologis Rp 13.000. Apakah ada intervensi BI?

"Kita selalu ada di pasar, kita jaga volatilitas. Sehingga tidak perlu dikhawatirkan," kata Agus dengan kalimat bersayap.(hds/hen) Jakarta -Sejak akhir pekan lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak cenderung melemah. Dolar AS terus mendekati level Rp 13.000.

Mengutip data perdagangan Reuters, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kala penutupan pasar berada di posisi Rp 12.955/US$. Menguat dibandingkan saat pembukaan pasar yaitu Rp 12.995/US$.

Agus Martowardojo, Gubernur Bank Indonesia, menilai fluktuasi rupiah adalah hal yang wajar. Dalam rezim devisa mengambang, perubahan nilai mata uang adalah hal yang tidak terhindarkan.

Dia menambahkan, pemerintah dan BI sudah memperkirakan bahwa rupiah akan bergerak (menguat atau melemah) sekitar 3-5% dari asumsi dalam APBN-Perubahan 2015 yang sebesar Rp 12.500/US$.

"Persetujuan pemerintah dan DPR, nilai tukar ada di Rp 12.500. Itu adalah rata-rata selama 1 tahun. Kondisinya di atas Rp 12.500 atau di bawah itu, ada penguatan atau pelemahan 3-5%," jelas Agus di Istana Negara, Jakarta, Senin (2/3/2015).

Menurut Agus, faktor utama pelemahan rupiah adalah penguatan dolar AS terhadap berbagai mata uang dunia. Pasalnya, perekonomian Negeri Paman Sam terus membaik.

"Secara umum, kita waspada AS yang menguat. Tapi Indonesia yang bisa lakukan pengendalian subsidi BBM dengan baik, pengendalian inflasi berjalan dengan baik, kita harapkan APBN-P bisa direalisasi dengan baik, sehingga buat ekonomi baik," paparnya.

Meski bergerak cenderung melemah, tetapi dolar AS tidak sampai menyentuh level psikologis Rp 13.000. Apakah ada intervensi BI?

"Kita selalu ada di pasar, kita jaga volatilitas. Sehingga tidak perlu dikhawatirkan," kata Agus dengan kalimat bersayap.(hds/hen)


 


Sumber :